4 Akibat Melakukan Praktek Riba Dalam Kehidupan Sehari-hari


Praktek Riba adalah perbuatan yang sangat dibenci Allah. Allah Ta’ala memerintahkan agar kaum mukmin meninggalkan riba.
Berikut firman-Nya dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (278) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ (279)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba),

maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (QS Al-Baqarah: 278-279)
Inilah konsekwensi dan akibat dari perbuatan Riba sebagai berikut;

Pertama, Sedekah Tak Diterima Dari Harta Riba.
Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا
Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thayyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thayyib (baik)”.(HR Muslim no. 1015).
Maka jangan sekali-kali kita bersedekah dengan dengan harta riba atau harta lainnya yang dihasilkan dari perkara haram karena hal itu di akan ditrima Allah.
Kedua, Doanya Sulit Terkabul.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW menceritakan:”Ada seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut dan berdebu.
Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdoa:
يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ
“Wahai Rabbku, wahai Rabbku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan doanya?” (HR Muslim no. 1014)
Ketiga, Menjadikan Hati Keras.
Allah Ta’ala berfirman:
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS Al-muthaffifin: 14)
Ayat di atas diperjelas maknanya dalam hadits berikut. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam.
Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya.
Itulah yang diistilahkan “ar-raan” yang Allah sebutkan dalam firman-nya (yang artinya), ‘sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (HR Tirmidzi No. 3334; Ibnu Majah No. 4244. Al-hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Keempat, Akan Disentuh Api Neraka.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehati Ka’ab bin Ujrah radhiyallaahu ‘anhu:
يَا كَعْبُ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Wahai Ka’ab bin Ujrah, sesungguhnya daging badan yang tumbuh berkembang dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka”. (HR Tirmidzi No. 614. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)
Sangat baik kita bertaubat sebelum terlambat karena nikmat dari perbuatan maksiat hanya sesaat. Sedangkan nikmat taat membahagiakan dunia dan akhirat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel